Jawabannya sering kali sederhana:
Sebagai pemilik website, seberapa sering Anda mempromosikan website tersebut?
Coba tanyakan ke diri sendiri:
- Pernah menuliskan URL website di Facebook?
- Pernah mencantumkan website di Instagram?
- Pernah memasang link website di TikTok?
- Apakah URL website sudah ada di profil WhatsApp?
- Apakah website sudah dicantumkan di Google Business Profile (Google Bisnis)?
- Apakah URL website sudah ditambahkan di Google Maps?
- Apakah website dicantumkan di kartu nama, brosur, atau spanduk?
- Apakah setiap kali membuat konten selalu menyertakan link website?
- Apakah email bisnis Anda sudah mencantumkan alamat website pada signature?
- Apakah website pernah dibagikan ke grup komunitas yang relevan?
- Apakah pernah membuat artikel yang kemudian dibagikan ke media sosial?
- Apakah pernah meminta pelanggan untuk mengunjungi website sebelum menghubungi WhatsApp?
- Apakah URL website sudah ada di marketplace, direktori bisnis, atau profil perusahaan lainnya?
- Apakah sudah saling bertukar link dengan rekan bisnis yang relevan?
- Apakah rutin menambahkan konten baru agar website tetap aktif?
Padahal itu semua gratis untuk dilakukan.
Faktanya, banyak pemilik website menghabiskan waktu dan biaya untuk membuat website, tetapi setelah website selesai dibuat, promosi hampir tidak pernah dilakukan.
Website akhirnya hanya menjadi seperti toko yang dibangun di tengah hutan.
- Bangunannya bagus.
- Produknya ada.
- Informasinya lengkap.
Tetapi tidak ada yang tahu lokasinya.
Website bukan hanya soal dibuat.
Website juga perlu diperkenalkan, dibagikan, dipromosikan, dan diberi alasan agar orang mau mengunjunginya.
Semakin sering website disebut, dibagikan, dan dijadikan pusat informasi bisnis, semakin besar peluang website tersebut dikenal oleh calon pelanggan maupun mesin pencari seperti Google.
Kalimat sederhana yang sering terlupakan:
"Jangan berharap website ramai jika alamat websitenya sendiri jarang terlihat di mana-mana."

