Pagi ini dimulai seperti biasa.
Matahari bersinar cerah. Anak-anak bersiap untuk hari terakhir ujian. Sarapan disiapkan, semangat dibangun, dan Hugo bertugas menjadi penjaga playlist pagi ini. Lagu-lagu favoritnya mengalun, membuat suasana rumah terasa lebih hidup.
Ada tawa kecil, ada semangat, ada harapan sederhana: semoga hari ini berjalan lancar.
Setelah semua siap, saatnya berangkat sekolah.
Aku melirik indikator bensin motor. Tersisa dua strip. Seharusnya cukup untuk perjalanan pagi ini. Dengan keyakinan sederhana itu, aku keluar rumah dan mulai menyusuri jalan.
Namun, baru sampai di ujung gang, mataku langsung tertuju pada pemandangan yang rasanya sudah terlalu akrab sejak beberapa hari terakhir.
Antrean BBM.
Masih panjang. Masih ada. Bahkan sudah terlihat sejak pagi, padahal SPBU berjarak hampir dua kilometer dari gang rumah.
Aku terdiam sejenak.
Lho, bukannya kemarin katanya hari ini sudah lancar?
Mungkin kata lancar memang punya definisi yang berbeda-beda. Di ruang ber-AC, lancar mungkin berarti laporan sudah disampaikan. Di lapangan, lancar mungkin berarti antrean bergerak beberapa meter, lalu berhenti lagi.
Sementara bagi orang-orang yang berdiri di atas motornya sejak malam, lancar mungkin berarti bisa pulang sebelum matahari terlalu tinggi.
Ironisnya, yang paling banyak terlihat mengantre justru anak-anak muda. Orang-orang tua mulai jarang terlihat. Entah sudah mendapatkan BBM, sudah lelah mengantre, atau memilih menyerah pada keadaan.
Mungkin sekarang giliran anak-anak mereka yang diminta mengantre. Kebetulan sekolah sedang diliburkan atau belajar dari rumah, sehingga waktu mereka bisa dipakai untuk menggantikan orang tuanya berdiri berjam-jam demi mendapatkan bensin.
Pemandangan yang menyedihkan sekaligus satir.
Anak-anak yang seharusnya menggunakan waktu untuk belajar, beristirahat, atau mempersiapkan masa depan, justru mungkin harus belajar tentang antrean, kelangkaan, dan bagaimana bertahan ketika kebutuhan paling dasar menjadi sulit diperoleh.
Padahal, di Bali, kendaraan pribadi bukan sekadar soal kenyamanan. Bagi banyak orang, motor adalah alat untuk pergi bekerja, mengantar anak sekolah, mencari nafkah, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Ketika BBM bermasalah, yang ikut tersendat bukan hanya kendaraan. Aktivitas keluarga, pekerjaan, usaha kecil, bahkan jadwal sekolah ikut terkena dampaknya.
Dan kita, masyarakat biasa, kembali belajar satu hal: antara apa yang disampaikan dan apa yang benar-benar terjadi di lapangan, terkadang ada jarak yang sangat jauh.
- Katanya hari ini beres.\
- Katanya sebentar lagi normal.\
- Katanya masyarakat tidak perlu khawatir.
Tetapi antrean masih ada.
Mungkin kita perlu berhenti menggantungkan ketenangan pada janji yang belum terbukti. Bukan berarti harus selalu curiga terhadap semua orang, tetapi jangan pula menjadikan ucapan siapa pun sebagai satu-satunya pegangan ketika kenyataan di depan mata berkata lain.
Lalu, apa yang bisa kulakukan?
Mungkin aku tidak bisa menyelesaikan persoalan distribusi BBM. Aku juga tidak punya kuasa untuk memastikan kapan semuanya kembali normal.
Tetapi setidaknya, aku bisa mengatur apa yang masih berada dalam kendaliku.
Mulai hari ini, jangan pergi jika memang tidak perlu. Hemat BBM untuk urusan yang benar-benar mendesak. Jika jaraknya dekat, pertimbangkan berjalan kaki atau bersepeda. Gabungkan beberapa keperluan dalam satu perjalanan. Jangan menghabiskan bensin hanya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditunda.
Bukan karena takut kehabisan semata, tetapi karena kita tidak tahu sampai kapan keadaan seperti ini akan berlangsung.
Dua strip bensin pagi ini mengingatkanku bahwa sesuatu yang selama ini terasa biasa ternyata bisa menjadi sangat berharga ketika sulit didapatkan.
Dan mungkin, inilah nasihat yang perlu kusampaikan kepada diriku sendiri:
Jangan terlalu cepat percaya pada kabar bahwa semuanya sudah beres sebelum melihat kenyataannya. Jangan ikut panik hanya karena orang lain panik. Jangan pula merasa paling benar hanya karena kita kecewa.
Tetap tenang, amati keadaan, gunakan akal sehat, dan lakukan apa yang bisa dilakukan.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang paling keras berbicara tentang keadaan, melainkan bagaimana kita menjaga keluarga tetap aman, pekerjaan tetap berjalan, dan kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Pagi ini, Hugo berangkat dengan iringan lagu favoritnya. Aku berangkat dengan dua strip bensin dan banyak pertanyaan di kepala.
Semoga hari terakhir ujiannya berjalan lancar.
Semoga antrean BBM segera berakhir.
Dan semoga kita semua belajar sesuatu dari keadaan ini: bahwa dalam situasi yang tidak menentu, kewaspadaan lebih berguna daripada janji, ketenangan lebih berguna daripada kepanikan, dan penghematan lebih bijak daripada penyesalan.
Untuk diriku sendiri: jangan menunggu keadaan menjadi sulit untuk mulai hidup lebih bijaksana.
