Memulai bisnis pertama seringkali terasa seperti berdiri di depan persimpangan jalan yang sangat besar tanpa penunjuk arah yang jelas. Saya tahu rasanya bingung mau melangkah ke mana lebih dulu karena pikiran kita biasanya penuh dengan banyak sekali ide yang saling tumpang tindih. Keinginan untuk punya usaha sendiri memang sangat menggebu, tapi di sisi lain ada rasa takut kalau langkah yang kita ambil ternyata salah. Kebanyakan orang yang baru mau mulai bisnis sering terjebak dalam perdebatan di dalam kepala sendiri tentang mana yang harus didahulukan. Apakah harus punya produk yang sangat canggih dulu, atau justru mencari orang yang mau beli dulu padahal barangnya belum ada.
Kebingungan ini sebenarnya hal yang sangat normal dan hampir dialami oleh semua pengusaha sukses yang kamu lihat sekarang. Rasanya seperti ingin membangun rumah tapi tidak tahu harus mulai dari fondasi atau beli pintunya dulu. Banyak calon pengusaha yang akhirnya malah berhenti di tengah jalan bahkan sebelum mereka benar-benar memulai, hanya karena merasa beban pikirannya terlalu berat. Saya ingin mengajak kamu untuk menarik napas dalam-dalam dan menyadari bahwa memulai bisnis tidak harus serumit yang ada di bayangan kamu. Kamu tidak butuh rencana seratus halaman atau modal miliaran untuk sekadar melangkah. Yang kamu butuhkan adalah kejelasan tentang apa yang sebenarnya sedang kamu coba bangun dan untuk siapa bisnis itu ada.
Seringkali masalah utama bagi pemula adalah terlalu banyak melihat ke arah luar tapi lupa melihat ke dalam diri sendiri. Kamu mungkin melihat tetangga sukses jualan kopi lalu merasa harus jualan kopi juga, atau melihat teman sukses jualan baju lalu kamu ikut-ikutan. Padahal, setiap bisnis punya nyawanya masing-masing yang sangat bergantung pada siapa orang di baliknya. Tanpa pemahaman yang kuat tentang langkah awal, kamu hanya akan kelelahan mengikuti tren yang tidak pernah ada habisnya. Oleh karena itu, mari kita bedah satu per satu tentang bagaimana sebenarnya cara yang paling masuk akal untuk memulai bisnis pertama kamu tanpa harus merasa terbebani oleh ekspektasi yang terlalu tinggi.
Mulai dari Mana?
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling sering mampir di kotak pesan saya atau saat saya sedang ngobrol santai dengan teman yang mau resign untuk berbisnis. Jawaban sederhananya adalah mulailah dari hal yang paling dekat dan paling mudah kamu jangkau saat ini juga.
Cari Masalah yang Bisa Kamu Berikan Solusinya
Langkah paling pertama yang bisa kamu lakukan adalah berhenti berpikir tentang apa yang ingin kamu jual dan mulai berpikir tentang apa yang orang lain butuhkan. Bisnis yang bertahan lama biasanya adalah bisnis yang lahir karena ada sebuah masalah yang perlu diselesaikan. Kamu bisa mulai dengan melihat ke sekeliling kamu atau bahkan melihat ke diri kamu sendiri. Apa hal yang selama ini membuat kamu merasa tidak nyaman atau merasa ada yang kurang? Misalnya, kamu merasa susah sekali mencari sarapan yang sehat tapi harganya tetap ramah di kantong di sekitar tempat tinggal kamu. Masalah kecil seperti ini sebenarnya adalah benih bisnis yang sangat bagus.
Ketika kamu memulai dari sebuah masalah, kamu sudah punya alasan yang kuat kenapa bisnis kamu harus ada. Kamu tidak perlu memaksa orang untuk menyukai produk kamu karena produk itu memang mereka butuhkan untuk mempermudah hidup mereka. Saya menyarankan kamu untuk menuliskan setidaknya lima masalah sederhana yang kamu temui sehari-hari. Jangan berpikir tentang masalah global yang berat, cukup masalah receh yang sering dikeluhkan orang di sekitar kamu. Dari sana, kamu bisa mulai memikirkan kira-kira solusi apa yang bisa kamu tawarkan dalam bentuk produk atau jasa. Ingat, orang tidak membeli produk, orang membeli solusi untuk masalah yang mereka hadapi.
Fokus pada solusi juga akan membuat kamu lebih semangat saat menghadapi tantangan. Kamu akan merasa bahwa bisnis kamu punya misi yang lebih besar daripada sekadar cari uang. Kamu ingin membantu orang lain keluar dari kesulitan mereka, sekecil apa pun itu. Inilah yang akan membuat bisnis kamu punya karakter dan berbeda dari bisnis lain yang cuma ikut-ikutan tren. Jadi, sebelum pusing memikirkan nama brand yang keren, pastikan dulu kamu tahu betul masalah apa yang sedang kamu selesaikan lewat bisnis pertama kamu ini.
Lihat Apa yang Sudah Kamu Punya di Tangan
Setelah tahu masalah apa yang mau diselesaikan, langkah berikutnya adalah menengok ke dalam diri sendiri. Jangan buru-buru mencari modal pinjaman atau mencari investor kalau kamu belum tahu aset apa yang sebenarnya sudah kamu miliki. Aset di sini bukan cuma soal uang, tapi bisa berupa keahlian, hobi, atau bahkan jaringan pertemanan yang kamu punya. Saya sering melihat orang yang ingin memulai bisnis jasa desain grafis tapi dia tidak punya kemampuan desain dan tidak punya modal untuk bayar orang. Akhirnya dia stres sendiri dan bisnisnya tidak pernah jalan.
Coba kamu buat daftar tentang apa saja yang kamu kuasai. Mungkin kamu jago masak, pintar bicara di depan umum, rapi dalam mengatur jadwal, atau mungkin kamu punya akses ke supplier barang tertentu dengan harga murah. Mulailah dari apa yang bisa kamu kerjakan sendiri terlebih dahulu. Dengan memulai dari keahlian yang sudah ada, kamu bisa menekan biaya operasional di awal bisnis. Kamu adalah aset terbesar dalam bisnis pertama kamu, jadi manfaatkan itu semaksimal mungkin sebelum kamu memutuskan untuk mengeluarkan uang lebih banyak.
Selain keahlian, lihat juga peralatan apa saja yang sudah ada di rumah kamu. Kalau kamu mau mulai bisnis kue, pastikan kamu sudah terbiasa pakai oven yang ada di dapur sendiri sebelum terpikir beli oven industri yang mahal. Memulai dengan apa yang ada di tangan akan mengajarkan kamu untuk menjadi kreatif dan hemat. Kamu jadi belajar caranya mengelola sumber daya yang terbatas untuk mendapatkan hasil yang paling bagus. Langkah ini juga akan membangun rasa percaya diri kamu karena kamu merasa sudah punya modal awal yang cukup untuk berani melangkah lebih jauh.
Kenali Calon Pembeli Kamu Seolah Mereka Adalah Teman
Banyak orang gagal di bisnis pertama karena mereka mencoba menjual semuanya ke semua orang. Padahal, kalau kamu berusaha menyenangkan semua orang, biasanya tidak ada satu pun yang benar-benar tertarik dengan produk kamu. Kamu perlu tahu siapa sebenarnya orang yang paling mungkin mengeluarkan uang untuk solusi yang kamu tawarkan. Apakah mereka anak muda yang masih sekolah, ibu rumah tangga yang hobi masak, atau pekerja kantoran yang sibuk dan butuh kepraktisan? Mengenal calon pembeli kamu adalah kunci supaya cara promosi kamu tidak salah sasaran.
Bayangkan calon pembeli kamu itu sebagai satu sosok orang yang nyata. Berikan dia nama, bayangkan apa kesukaannya, jam berapa biasanya dia bangun tidur, dan media sosial apa yang paling sering dia gunakan. Dengan begini, saat kamu membuat konten promosi atau menentukan harga, kamu punya patokan yang jelas. Kamu jadi tahu bahasa seperti apa yang enak didengar oleh mereka. Kalau target kamu adalah anak muda, mungkin bahasanya bisa lebih santai dan seru. Tapi kalau target kamu adalah orang tua, tentu kamu harus menggunakan bahasa yang lebih sopan dan jelas informasinya.
Kamu bisa melakukan riset sederhana dengan cara mengobrol langsung dengan orang-orang yang masuk dalam kriteria pembeli kamu. Tanya mereka apa yang mereka sukai dan apa yang biasanya membuat mereka ragu untuk membeli sesuatu. Informasi seperti ini jauh lebih berharga daripada data statistik yang ada di internet. Kamu jadi bisa membuat produk yang benar-benar pas dengan keinginan mereka. Ingat, bisnis adalah soal hubungan antar manusia. Semakin kamu mengenal pembeli kamu, semakin mudah bagi kamu untuk membuat mereka jatuh cinta dengan apa yang kamu tawarkan.
Buat Produk Versi Sederhana yang Penting Jalan Dulu
Salah satu hambatan terbesar pemula adalah keinginan untuk tampil sempurna sejak hari pertama. Kamu mungkin ingin kemasannya sangat mewah, websitenya sangat canggih, dan kantornya sangat estetik. Padahal, semua itu belum tentu dibutuhkan oleh pembeli kamu di tahap awal. Saya selalu menyarankan untuk memulai dengan versi yang paling sederhana tapi fungsinya tetap terjaga. Istilahnya adalah buat dulu barang yang cukup layak untuk dijual dan bisa memberikan solusi bagi pembeli. Jangan tunggu sampai sempurna karena kesempurnaan itu tidak akan pernah ada habisnya kalau cuma di dalam kepala.
Dengan membuat versi sederhana, kamu bisa langsung mengetes apakah orang benar-benar mau membeli produk kamu atau tidak. Kalau ternyata ada kekurangan, kamu bisa memperbaikinya sambil jalan berdasarkan masukan dari pembeli pertama kamu. Ini jauh lebih aman daripada kamu sudah menghabiskan banyak uang untuk membuat produk yang sangat mewah, tapi ternyata saat dilempar ke pasar tidak ada yang berminat. Proses belajar sambil praktik ini adalah sekolah bisnis terbaik yang pernah ada. Kamu akan mendapatkan banyak ilmu yang tidak akan kamu temukan di buku mana pun.
Jangan merasa malu kalau produk pertama kamu masih terlihat sederhana. Pembeli yang tulus biasanya lebih menghargai kejujuran dan kualitas manfaat yang mereka terima daripada sekadar tampilan luar yang berlebihan. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya keuntungan, kamu bisa pelan-pelan memperbaiki kualitas kemasan, menambah fitur produk, atau meningkatkan pelayanan. Yang paling penting adalah kamu sudah punya bukti bahwa bisnis kamu memang ada pasarnya. Langkah kecil yang nyata jauh lebih baik daripada rencana besar yang tidak pernah dikerjakan.
Tentukan Harga yang Masuk Akal dan Tetap Menguntungkan
Menentukan harga seringkali menjadi momen yang membuat kita merasa tidak enak hati. Ada perasaan takut kemahalan sehingga orang tidak mau beli, tapi ada juga rasa takut terlalu murah sampai kita malah nomok alias rugi. Kamu harus mulai belajar menghitung semua biaya yang keluar dengan teliti. Jangan cuma menghitung harga bahan bakunya saja, tapi hitung juga tenaga yang kamu keluarkan, biaya listrik, biaya paket data untuk jualan, sampai biaya transportasi saat kamu mengantar pesanan. Semua itu adalah biaya yang harus dikembalikan oleh harga jual produk kamu.
Setelah tahu modal dasarnya, baru kamu bisa menambahkan keuntungan yang kamu inginkan. Lihat juga harga pasaran untuk produk sejenis, tapi jangan jadikan harga orang lain sebagai satu-satunya patokan. Kalau produk kamu punya nilai tambah yang tidak dimiliki orang lain, tidak ada salahnya kamu memasang harga sedikit lebih tinggi. Yang penting, kamu bisa menjelaskan kepada pembeli kenapa harga tersebut pantas untuk kualitas yang kamu berikan. Berikan pengertian bahwa mereka membayar untuk sebuah nilai dan kemudahan yang mereka dapatkan.
Jangan pernah takut untuk memungut bayaran yang pantas. Bisnis yang tidak menghasilkan keuntungan bukanlah bisnis, melainkan kegiatan amal. Kamu butuh keuntungan supaya bisnis kamu bisa terus berjalan dan kamu bisa terus membantu lebih banyak orang dengan produk kamu. Kalau sejak awal kamu sudah membiasakan diri untuk jujur dalam menghitung keuangan, bisnis kamu akan punya fondasi finansial yang sehat. Keuntungan inilah yang nantinya akan kamu gunakan untuk mengembangkan bisnis menjadi lebih besar lagi di masa depan.
Mulai Cari Teman Diskusi atau Mentor yang Bisa Dipercaya
Menjalankan bisnis pertama itu bisa terasa sangat sepi kalau kamu mengerjakannya sendirian tanpa ada tempat untuk berbagi cerita. Kamu tidak harus punya rekan bisnis secara resmi, tapi kamu butuh teman diskusi yang bisa memberikan sudut pandang berbeda. Carilah orang yang mungkin sudah punya pengalaman lebih dulu dalam dunia usaha atau teman yang memang punya minat yang sama dengan kamu. Ngobrol dengan mereka bisa membukakan pikiran kamu terhadap hal-hal yang mungkin selama ini luput dari perhatian kamu.
Seorang mentor tidak harus orang yang sudah sangat kaya atau terkenal. Mentor bisa saja kakak tingkat kamu, paman kamu, atau tetangga yang sukses jualan gorengan. Intinya adalah mereka sudah pernah merasakan pahit manisnya berjualan dan punya mental yang sudah teruji. Dari mereka, kamu bisa belajar banyak tentang cara menghadapi komplain pelanggan, cara mengatur waktu, sampai cara menjaga semangat supaya tidak mudah menyerah. Mendengarkan cerita kegagalan orang lain justru seringkali lebih bermanfaat daripada hanya mendengarkan cerita sukses mereka saja.
Selain mentor, bergabunglah dengan komunitas pengusaha lokal atau grup online yang positif. Di sana kamu bisa melihat bahwa kamu tidak sendirian menghadapi tantangan memulai bisnis. Kamu bisa saling berbagi tips, bertukar informasi supplier, atau bahkan bekerja sama untuk promosi bareng. Memiliki lingkungan yang mendukung akan sangat membantu menjaga kesehatan mental kamu selama membangun bisnis pertama. Ketika kamu sedang merasa lelah, mereka lah yang akan mengingatkan kamu kenapa dulu kamu memutuskan untuk memulai semua ini.
Siapkan Mental untuk Menghadapi Respon Pasar
Langkah terakhir yang sangat penting sebelum kamu benar-benar melepas bisnis ke publik adalah menyiapkan mental. Kamu harus siap kalau ternyata respon orang tidak sesuai dengan harapan kamu. Mungkin saat pertama kali kamu posting di media sosial, tidak ada satu pun yang memberikan tanda suka atau komentar. Atau mungkin ada pembeli pertama yang memberikan kritik pedas tentang produk kamu. Semua itu adalah bagian dari proses pertumbuhan. Jangan baper atau langsung merasa gagal karena respon awal yang kurang memuaskan.
Respon pasar, baik itu yang bagus maupun yang buruk, adalah data yang sangat berharga. Kalau orang diam saja, artinya mungkin cara promosi kamu kurang menarik. Kalau orang komplain, artinya ada bagian dari produk kamu yang harus segera diperbaiki. Anggap saja pasar sebagai guru yang paling jujur. Semakin sering kamu menerima masukan, semakin cepat bisnis kamu akan menjadi dewasa. Mental pengusaha yang kuat adalah mental yang tidak mudah goyah oleh satu atau dua kegagalan kecil di awal perjalanan.
Ingatlah bahwa bisnis adalah sebuah perjalanan panjang, bukan lari sprint yang harus selesai dalam waktu singkat. Setiap hari adalah kesempatan untuk belajar hal baru dan memperbaiki apa yang masih kurang. Selama kamu tetap konsisten dan mau terus mendengarkan apa yang pasar inginkan, bisnis pertama kamu pasti akan menemukan jalannya sendiri untuk sukses. Mulailah sekarang, jangan tunggu besok atau tunggu semua terasa siap. Keberanian kamu untuk memulai adalah kunci pembuka bagi segala pintu peluang yang ada di depan mata. Selamat mencoba dan semoga bisnis kamu lancar ya.
